Postpartum Depression Syndrome

 
MK.COM – Kehamilan adalah anugerah bagi setiap pasangan suami isteri. Hampir setiap pasangan yang baru menikah ingin segera dikaruniai keturunan. Akan tetapi kehamilan sendiri merupakan proses yang kompleks. Mulai proses inisiasi kehamilan, hamil, melahirkan dan pasca melahirkan, ada saja masalah yang sering muncul. Namun ini adalah kodrat bagi perempuan, yang In sya Allah menjadi ladang amal dan pahala bagi kaum hawa.
 
Pengorbanan dan perjuangan seorang ibu pun telah digambarkan di dalam QS. Luqman ayat 14 yang artinya:
 
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan meyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu.”
 
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa seorang ibu mengalami 3 kepayahan, yang pertama saat hamil, kemudian saat melahirkan, dan selanjutnya saat menyusui. Oleh karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.
 
Akan tetapi sobat, proses persalinan tidak selalu happy ending. Seperti yang telah disebutkan di atas, ada saja tantangan bagi seorang ibu yang baru melahirkan. Selain proses pemberian ASI yang tak selalu mulus, juga terdapat gangguan mental yang bisa dialami oleh beberapa ibu pasca melahirkan. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan mengupas tentang Postpartum Depression Syndrome (PDS) atau sindrom depresi pasca persalinan.
 
Di antara sobat muslimah mungkin ada yang pernah mendengar baby blues syndrome (BBS) atau sering juga disebut Postpartum Distress Syndrome.Gangguan ini adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami 50-80% perempuan setelah melahirkan bayinya. Nah baby blues ini masih tergolong ringan dan biasanya dialami pada 2 – 3 hari pertama pasca melahirkan dan dapat berlangsung hingga 2 minggu. Akan tetapi bila gangguan ini berlanjut, bisa jadi telah mengarah kepada Postpartum Depression Syndrome.
 
Beberapa gejala BBS, yaitu:
1. Menangis tanpa sebab yang jelas
2. Mudah kesal dan tersinggung
3. Lelah
4. Cemas
5. Tidak sabaran
6. Enggan memperhatikan bayi
7. Tidak percaya diri
8. Sulit berisitirahat dengan tenang
9. Sulit berkonsentrasi
 
Sedangkan gejala dari PDS, yaitu:
1. Cepat marah
2. BIngung
3. Mudah panik
4. Merasa putus asa
5. Perubahan pola makan dan pola tidur
6. Ada perasaan takut bisa menyakiti bayinya
7. Ada perasaan khawatir tidak dapat merawat bayinya dengan baik
8. Timbul perasaan tidak bisa menjadi ibu yang baik
9. Hilangnya kesenangan terhadap aktivitas yang biasa disukai
10. PDS bisa berlangsung selama 6 bulan hingga 1 tahun setelah kelahiran bayi
 
Dari segi gejala memang BBS dan PDS hampir mirip. Perbedaan keduanya terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala-gejala di atas. Pada kasus PDS akut, sang ibu bahkan bisa mengakhiri hidupnya atau menyakiti bayinya sendiri. Cara lain untuk membedakan BBS dan PDS yaitu dengan memperhatikan pola tidur ibu. Apabila ada orang lain yang menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka kemungkinan besar ibu hanya mengalami BBS. Akan tetapi jika si ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya sudah ada yang menjaga, mungkin tingkat depresinya sudah termasuk dalam PDS.
 
Postpartum Depression Syndrome (PDS) tidak hanya disebabkan oleh satu penyebab tunggal. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, baik dalam hal perubahan fisik maupun emosional. Faktor fisik yang dimaksud yaitu adanya perubahan hormonal, baik estrogen, progesteron, hormon tiroksin, dan oksitosin. Adapun faktor emosional biasanya terkait dengan gangguan tidur dan tugas baru sebagai seorang ibu yang sering membuat kewalahan. Adapun faktor risiko terjadinya PDS, antara lain:
 
1. Adanya riwayat depresi baik selama kehamilan maupun di masa lampau sebelum kehamilan
2. Adanya penyakit bipolar (kadang merasa depresi dan lemah berlebihan, tapi di waktu lain merasa sangat senang, bersemangat, kelebihan energi, dan tidak merasa lelah meskipun telah melakukan banyak aktivitas seharian)
3. Riwayat PDS pada persalinan sebelumnya
4. Riwayat keluarga dengan gangguan depresi atau mood
5. Adanya stressful events pada tahun-tahun sebelumnya, misal akibat suatu penyakit yang diderita, masalah pekerjaan atau komplikasi kehamilan
6. Adanya masalah kesehatan pada bayinya
7. Mengalami kesulitan dalam memberikan ASI
8. Adanya masalah dengan pasangan
9. Lemahnya sistem dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat
10. Masalah finansial
11. Kehamilan tersebut tidak diinginkan atau tidak direncanakan sebelumnya
 
Lalu kapan seorang ibu perlu berkonsultasi ke dokter? Apabila ibu merasa tertekan atau depresi setelah kelahiran bayi dengan gejala yang telah disebutkan di atas, dianjurkan segera berkonsultasi ke dokter. Jadi jangan sampai kita menunggu hingga 2 minggu atau menunggu hingga gejala bertambah parah. Bila ibu merasa kesulitan melaksanakan aktivitas harian atau sulit untuk merawat bayi akibat gejala-gejala di atas, segeralah berkonsultasi agar tidak terjadi berbagai komplikasi yang tidak hanya berefek kepada sang ibu, tetapi juga pada sang ayah dan bayi.
 
Komplikasi pada ibu, yaitu terjadinya depresi mayor yang berkepanjangan dan lebih sulit ditangani. Sang ayah juga dapat mengalami depresi yang bisa berefek pada hubungan suami-isteri. Adapun sang bayi dapat mengalami gangguan tidur dan gangguan makan yang berefek pada tumbuh kembangnya. Pada beberapa bayi juga lebih sering rewel dan mengalami gangguan perkembangan bahasa di masa selanjutnya.
 
Meskipun PDS tidak dapat diprediksi sebelumnya, akan tetapi ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan calon ibu di masa kehamilan, antara lain:
 
1. Istirahat yang cukup
2. Mengkonsumsi camilan di sela makanan utama karena kadar gula yang rendah bisa mempengaruhi perasaan/mood
3. Berolahraga ringan secara teratur
4. Makan makanan yang sehat dengan gizi berimbang
5. Menghindari alkohol dan rokok
6. Membuat planning terkait hal-hal/aktivitas yang perlu dilakukan selama kehamilan dan pasca melahirkan. Tidak perlu bercita-cita menjadi ibu super yang dapat melakukan segala hal dengan sempurna.
7. Bila mempunyai masalah atau kekhawatiran, segera komunikasikan dengan pasangan, teman atau keluarga
8. Berbagi info dan keluh kesah dengan sesama ibu hamil atau ibu lainnya yang jauh lebih berpengalaman
 
Satu hal yang perlu kita ingat dan yakini bahwa mengalami depresi pasca melahirkan bukan berarti seorang perempuan menjadi seorang ibu yang buruk. Adanya optimisme ibu, rasa bahagia menjadi ibu dengan dukungan dari orang sekitar akan menjadikan seorang ibu dengan BBS maupun PDS lebih mudah bangkit. Tentu saja tidak melupakan kedekatan dengan Allah subhanahu wata’ala, berdoa agar dimudahkan dalam menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu karena menjadi ibu adalah kodrat alami yang telah diberikan Allah kepada perempuan.
 
Nah, demikian sobat muslimah sekilas info terkait Postpartum Depression Syndrome. Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi calon ibu atau yang telah menjadi ibu. Salam sehat 😊
 
Oleh: dr. Nur Laila Fitriati (Member Komunitas Muslimah Kreatif)

Rate this article!