Bukan Sekedar Doa

MK.com – Jumat 25 Ramadhan 1442H Israel kembali berulah di bumi Palestina, bumi yang Allah berkahi, saat shalat Jumat dilaksanakan hanya dengan alasan mencegah kerumunan. Rakyat Palestina kembali menjadi korban. Begitu takutkah mereka melihat sedikit saja umat Islam berkumpul, tentara Israel langsung bertindak brutal. Sungguh tindakan mereka sudah di luar nalar kemanusiaan. Apa yang telah mereka lakukan telah mencabik-cabik kehormatan kaum muslimin di seluruh dunia yang tak mampu membela dan hanya bisa berdoa dan mengecam saja.

Bumi Palestina milik umat Islam seluruh dunia, milik kita semua. Rakyat yang dizalimi di sana adalah saudara kita yang memiliki Allah yang sama, Nabi yang sama, dan kitab suci Al-Qur’an yang sama yang selalu kita baca dan banyak kita khatamkan terutama di bulan Ramadhan. Bukankah umat Islam satu tubuh? Bukankah kita semua bersaudara? Lalu apa yang kita lakukan untuk membela mereka? Apakah cukup dengan doa dan kecaman saja?

Apakah keimanan kita sudah pada titik terendah? Sehingga kita hanya mampu berdoa saja? Kemana para pemimpin negeri-negeri muslim yang mempunyai kekuatan militer melebihi kekuatan militer zionis Israel laknatullah? Di mana persenjataan negeri-negeri muslim? Apakah hanya untuk disimpan di Gudang-gudang persenjataan dan digunakan saat latihan saja? Lupakah mereka akan hari pertanggungjawaban kelak?

Rasulullah telah menjelaskan dalam sabdanya bagaimana sikap seorang muslim ketika terjadi kezaliman.
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya:
Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahuanhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim No. 49).

Tak dipungkiri, bahwasanya doa merupakan inti dari semua ibadah, sebagaimana Rasulullah bersabda :
الدُعَاء مُخ العبادة
Artinya :
“Doa adalah inti ibadah.” (At Tirmidzi mengeluarkan hadits ini dari Nu’man bin Basyir. Hadits Hasan Shahih).
Hadis tersebut juga dipertegas dengan firman Allah dalam surat Al-Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُوۡنِىۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَـكُمۡؕ اِنَّ الَّذِيۡنَ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِىۡ سَيَدۡخُلُوۡنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيۡنَ

Artinya :
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Allah sangat mencintai hamba yang senantiasa berdoa kepada-Nya dan Allah pasti akan mengabulkan setiap doa orang yang berdoa. Terutama doa-doa yang dipanjatkan di malam-malam akhir Ramadhan. Akan dahsyat efek doa bahkan dapat mengguncangkan pintu-pintu langit apalagi bagi orang yang terzalimi. Maka teruslah berdoa wahai kaum muslimin di seluruh dunia agar Allah segera membebaskan Baitul Maqdis, bumi Palestina.

Dan akan berat hukumannya bagi siapa saja yang tidak mau berdoa karena sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah bahkan merasa semua yang diperolehnya adalah dikarenakan hasil jerih payahnya semata seperti hal nya Qarun, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.

Namun demikian, keberadaan doa sebagai suatu ibadah tidak berarti bahwa kita boleh meninggalkan kausalitas. Sebagaimana dalam sirah Rasulullah SAW merupakan bukti nyata bahwa Rasulullah SAW telah berusaha semaksimal mungkin dalam setiap perkara yang akan dilakukannya.

Sebagai contoh saat perang Badar, Rasulullah telah menyiapkan pasukan dengan persiapan yang maksimal dan mengatur pasukan di posisinya masing-masing. Kemudian Rasulullah masuk ke bangsalnya untuk berdoa, meminta pertolongan Allah SWT. Hingga kemenangan diraih umat muslim meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh.

Contoh lainnya adalah Ketika Rasulullah diperintahkan untuk hijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau pun berikhtiar melakukan berbagai strategi agar dapat selamat sampai ke Madinah dengan cara mengambil arah sebaliknya, yaitu ke arah selatan padahal Madinah ada disebelah utara kota Mekah. Kemudian beliau bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar. Selama tiga hari berada di Gua Tsur beliau senantiasa mendapat berita dari Abdurrahman bin Abu Bakar tentang rencana kaum Quraisy. Saat kembali, ia diperintahkan menuntun kambing di belakangnya untuk menghapus jejak kaki Abdurrahman dalam rangka mengecoh kafir Quraisy. Setelah upaya pencarian Rasulullah tidak lagi gencar, barulah Rasulullah meneruskan perjalanannya ke Madinah. Rasulullah melakukan semua itu meskipun beliau yakin akan sampai ke Madinah dengan selamat. Banyak lagi contoh lain upaya yang telah dilakukan Rasulullah.

Jadi, berdoa bukan berarti meninggalkan usaha dengan menjalani kaidah kausalitas, melainkan doa itu harus senantiasa menyertai setiap usaha dengan menjalani kaidah kausalitas.
Untuk itu, jika kita menginginkan Baitul Maqdis kembali menjadi milik umat muslim, jika kita tidak ingin Israel terus membantai umat Islam di Palestina, jika kita menginginkan kedamaian di seluruh negeri-negeri muslim, maka kita tidak boleh merasa cukup dengan berdoa. Kita harus berusaha melakukan aktivitas yang mampu membebaskan penjajahan di seluruh negeri-negeri muslim, yaitu aktivitas dakwah politik dengan mendakwahkan Islam kaffah sebagai solusi kehidupan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.

Kita juga harus menyadarkan umat betapa pentingnya persatuan umat di bawah naungan Khilafah sebagaimana para sahabat telah menjalankan dan sejarah membuktikannya selama 13 abad. Islam mampu menyatukan seluruh umat di Barat dan Timur, memimpin dunia dengan peradaban yang gemilang penuh rahmatan lil alamin.
Sejarah juga mencatat bahwa khalifah mampu menjaga harta, jiwa dan kehormatan umat di seluruh dunia. Khilafahlah satu-satunya sistem yang mampu menerapkan syariat Islam secara sempurna berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dan menegakkan jihad di muka bumi. Khilafah pula yang telah membebaskan Baitul Maqdis dan negeri-negeri muslim lainnya dari penjajahan. Maka sudah saatnya umat Islam mewujudkannya sebagai konsekuensi ketaatan pada Rabbnya. Wallahu a’lam.[]

Penulis : Elif Fitriah Masjid, S.HI (Praktisi Pendidikan)

Rate this article!
Bukan Sekedar Doa,0 / 5 ( 0votes )