Disparitas Kualitas SDM Bukan Hanya Karena Iklim Patriarki

MK.COM – Pada 25 Maret 2021, Kementerian PPPA melalui laman resminya mengunggah sebuah rilis terkait rendahnya IPM (Indeks Pembangunan Manusia) perempuan di Indonesia. IPM perempuan di tahun 2019 menunjukkan angka 69,18 dan IPM laki-laki berada di angka 75,96. Hal ini menurut menteri PPPA menjadi salah satu indikator banyaknya masalah yang dihadapi oleh perempuan, mulai dari masalah ketimpangan ekonomi hingga kekerasan. Tak ketinggalan, menteri PPPA, Bintang Puspayoga menyampaikan salah satu penyebab masalah-masalah tersebut adalah karena masih masifnya praktik diskriminasi berbasis gender tersebab budaya patriarki yang telah mengakar di masyarakat (kemenpppa.go.id 25/03/21).

Memang, bila memerhatikan fakta yang ada di lapangan, masih terdapat banyak sekali diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami perempuan, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja, bahkan di tataran sosial masyarakat. Oleh karena realita permasalahan inilah, menteri PPPA dan jajarannya menyampaikan pentingnya pengarusutamaan kesetaraan gender untuk mengubah kondisi sosial masyarakat yang patriarkis dan untuk meningkatkan pembangunan kualitas manusia, khususnya perempuan.

Meskipun sedemikian pelik fakta yang terindera hari ini, solusi yang ditawarkan oleh pemerintah tentu tidak terlepas dari kritik. Salah satunya, seperti yang disampaikan dalam buku Delusi Kesetaraan Gender yang digawangi oleh Dinar Dewi Kania. Mengingat wacana pengarusutamaan kesetaraan gender ini bukanlah wacana baru, maka masyarakat, khususnya elemen umat Islam hendaknya tidak mengamini begitu saja wacana yang seyogyanya tetap harus ditinjau dari sudut pandang Islam.

Fakta lain menunjukkan, wacana kesetaraan gender adalah sebuah wacana yang diimpor ke negeri ini oleh negara-negara Barat melalui berbagai agenda internasionalnya. Hal ini sudah cukup menjadi alasan untuk menujukkan sikap kritis, karena banyak dari poin wacana ini yang ternyata tidak bersesuaian dengan nilai-nilai Islam. Lebih jauh, agenda yang telah digariskan dalam kerangka kesetaraan gender ini tidak sedikit yang bertentangan dengan syariat. Program yang hanya membebek pada agenda internasional negara Barat yang sarat dengan ide liberal dan sekulernya, tanpa merumuskan akar masalah, tantangan dan kebutuhan yang nyata dihadapi negeri ini terkait peningkatan kualitas SDM, sangat berpotensi ‘blunder’.

Alih-alih menjadi solusi atas berbagai masalah yang menimpa perempuan yang juga berdampak pada rendahnya kualitas SDM, ide untuk mengarusutamakan kesetaraan gender justru menambah masalah yang sudah kian pelik. Hal ini disebabkan karena salahnya mata pisau analisis yang digunakan para oleh penggaung wacana, yakni relasi subordinasi antara laki-laki dan perempuan akibat adanya budaya patriarki (sikap yang menunjukkan superioritas laki-laki daripada perempuan) di masyarakat.

Kelirunya mata pisau yang digunakan juga pada faktanya melahirkan solusi yang tidak tepat untuk menyelesaikan masalah. Masalah yang kian mengakar yang menimpa perempuan dan manusia lainnya secara umum sebenarnya disebabkan oleh implementasi sistem kehidupan yang tidak menganggap adanya otoritas agama dan tuhan dalam mengatur urusan manusia. Padahal kedua otoritas ini, khususnya Islam dan Allah adalah otoritas terbaik dalam mengatur kelangsungan hidup manusia. Bila sudut pandang ini tetap dikesampingkan, maka berharap akan hadirnya perbaikan hakiki sejalan dengan peribahasa ibarat menggantang asap, suatu aktivitas yang tak mungkin berhasil.

Terlebih lagi, pengabaian otoritas Islam dan Allah al Mudabbir (Maha Pengatur) ini jugalah yang melahirkan budaya patriarkis yang mengutamakan posisi laki-laki dan merendahkan harkat perempuan, sementara Islam hanya membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan ketakwaannya. Jadi, perkara ini bukanlah semata masalah yang disebabkan karena masifnya budaya dan praktik patriarki di masyarakat.

Islam dengan syariatnya yang diterapkan dalam seluruh level kehidupan, akan mampu mengatur keberlangsungan manusia, termasuk dalam meningkatkan kualitas SDMnya, yang tak hanya layak hidupnya, sehat tubuhnya serta memiliki pengetahuan yang mumpuni, melainkan kualitas berdasarkan takwa dan penghambaan pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hanya saja, peningkatan kualitas SDM yang demikian, tidak akan mampu dilaksanakan dalam kerangka sistem yang masih meremehkan peranan Allah dalam pengaturan kehidupan seperti hari ini. Diperlukan pelaksanaan ideologi berbasis Islam untuk mampu mewujudkannya, karena hanya aturan Islamlah yang memang mampu membawa kualitas manusia menuju yang lebih baik. Allahu a’lam.[]

Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si (Alumni Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI)

Visualis : Thery