Mantra Sihir Berbalut Kebahagiaan Semu pada Perempuan

MK.COM – Iming-iming peran perempuan dalam pembangunan bangsa semakin membahana. Dengan konsep pemberdayaan perempuan, perempuan diberikan mimpi untuk meraih bahagia. Bahagia dalam kepuasan materi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Perempuan diajak untuk mengenal potensi dirinya agar bisa memerah keringat dan pikiran untuk mencari sebongkah emas dan berlian. Berpikir merumuskan tujuan hidup yang singkat ini untuk menjadi mesin ekonomi bangsa.

Mantra perempuan cerdas, berdaya, dan bahagia selalu didengungkan. “Seorang perempuan cerdas, berdaya dan bahagia tentu menjadi jauh lebih produktif secara ekonomi dan bisa berkontribusi dalam banyak hal ketika sudah menyadari segala macam potensi yang dimilikinya dalam hal materi”.

Dasar-dasar kepemimpinan, self esteem, Social Enterpreunership, dan pemahaman mengenai hak-hak perempuan serta persoalan yang dihadapi perempuan menjadi arus utama pembahasan. Dengan demikian para perempuan dibimbing untuk menyadari akan hak-hak independensi liberal dan berani dalam membela kepentingan atas nama uang.

Apalagi siapa yang tidak butuh uang. Di tengah harga pangan yang membumbung tinggi, biaya pendidikan anak yang mahal, jaminan kesehatan minimalis jika tidak ada uang. Membuat perempuan diiring untuk membantu perekonomian keluarga. Perempuan dimotivasi dapat merambah dan menancapkan eksistensinya sehingga uang mudah didapat dari tangannya sendiri. Perempuan selalu menjadi kaum marginal. Tanpa uang, perempuan bingung dengan hidupnya. Perempuan diiming-iming akan belum disadarinya potensi dan peluang-peluang yang dimilikinya untuk berkontribusi dalam membangun ekonomi keluarga dan bangsa.

Konsep “Women Empowerment” terdiri dari 3 bagian, yakni self esteem dan kepemimpinan, pemahaman mengenai hak-hak perempuan dan beragam persoalan yang dihadapi kaum perempuan, serta social enterpreunersip selalu dibahas. Materi mengenai Entrepreneurship akan diberikan dalam proporsi yang lebih besar untuk menunjang kemandirian ekonomi peserta dan kelompoknya agar bisa mendanai keperluan pribadi maupun organisasinya dan memutus rantai ketergantungan ekonomi pada kaum adam.

Pembinaan disajikan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran sekulerisme, melepaskan hakikat perempuan diciptakan sebagai pendidik pertama generasi dan sandaran kasih sayang utama keluarga.

Mantra-mantra dalam kata bahwa perempuan masa kini adalah perempuan yang mandiri, baik mandiri dalam kepribadian maupun mandiri secara ekonomi. Perempuan yang mandiri kepribadiannya adalah perempuan yang memiliki percaya diri dengan konsep diri yang positif, mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, tidak mudah menyerah, dan berupaya mempersembahkan yang terbaik bagi kehidupan. Sedangkan perempuan yang mandiri secara ekonomi adalah perempuan yang dapat mengelola keuangan keluarga dan turut berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan pribadi dan keluarganya.

Mantra-mantra lain adalah kata berdaya guna. Perempuan masa kini adalah perempuan yang berdaya guna, yang memberikan kemanfaatan baik untuk dirinya sendiri, keluarga, dan negaranya. Bermanfaat untuk dirinya menjadi unsur pertama sebelum memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

“Women Empowerment” yang dipropagandakan hanyalah mantra sihir yang menyuburkan mimpi perempuan dan keluarganya untuk meraih kebahagiaan semu. Lihat saja, semua parameternya hanya bernilai materialistis.

Realitasnya, para kapitalis yang serakah terus-menerus mengeksploitasi perempuan demi mewujudkan totalitas hegemoninya di dunia. Dunia yang disetir oligarki pengendali Multi National Corporation strategis telah menguasai SDA vital dan bisnis global dunia.

Tentu mereka membutuhkan SDM untuk mengelola produksi barang dan jasa di korporasi miliknya. Tenaga kerja perempuan memiliki “keunggulan komparatif”. Makhluk yang cekatan dan tak banyak protes ketika diperah tenaganya. Karena itu ditebarkanlah propaganda demi memobilisasi keterlibatan mereka yang akan menjadi sumbangsih bagi kesejahteraan keluarga dan bangsanya.

Selain menggerakkan roda ekonomi, perempuan adalah pasar potensial produksi barang dan jasa. Perempuan diiring menjadi konsumtif karena punya penghasilan sendiri. Karena itu perempuan yang mandiri secara finansial akan menjadi target konsumen potensial. Sehingga mengalirlah keuntungan bagi “brankas” bos-bos Multi National Corporation.

Karena itu pula para kapitalis menciptakan ukuran untuk menilai keseriusan setiap negara menderaskan arus kesetaraan gender. UNDP (United Nations Development Programme) dipilih untuk mengawal capaian tersebut demi mengesankannya sebagai target pembangunan.

Ilusi kapitalisme adalah mewujudkan Planet 50:50, kesetaraan paripurna pada semua bidang. Kapitalisme mengiming-imingi dunia, bahwa jika perempuan memiliki peran identik dengan laki-laki di lapangan kerja, hal itu bakal meningkatkan PDB global pada 2025 sebesar 28 triliun dolar.

Kapitalisme memang gagal dalam menyelesaikan semua masalah. Ini adalah akibat sistem sekuler yang mereka terapkan. Termasuk gagal dalam menyelesaikan masalah perempuan.

Bagaimana tidak disebut gagal bila konseptor “women empowerment” tak pernah tulus menghargai martabat perempuan, kecuali hanya menjadikan perempuan sebagai obyek ekonomi dan Pelengkap penderita atas permasalahan utama dunia kapitalistik.

Watak liberal yang disandang Kapitalisme turut memberi andil terhadap penghancuran peran sentral setiap anggota keluarga. Persaingan ekonomi yang keras menekan perempuan untuk memasuki dunia kerja. Mereka dipaksa mengadopsi peran kaum adam sebagai pencari nafkah sekalipun jika mereka ingin tinggal di rumah dan merawat anak-anak.

Peradaban kapitalisme juga telah mereduksi nilai perempuan; hanya dianggap berharga bila mandiri secara finansial. Pengistimewaan posisi perempuan dalam dunia kerja tak jarang turut memelihara mentalitas ketakpedulian laki-laki terhadap tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Betapa banyak perempuan depresi karena target pekerjaan sekaligus menjadi breadwinner plus bertanggung jawab mengendalikan rumah dan keluarganya. Wajar jika kerap terjadi perselisihan tentang tanggung jawab dalam pernikahan dan pengasuhan anak berujung konflik keluarga. Sebabnya, posisi laki-laki sebagai qawwam tak terjadi. Pernikahan bukan lagi untuk menjalani mitsaq[an] ghalizha. Banyak pasangan yang tak mampu melewati ujian pernikahan hingga perceraian menjadi pilihan logis. Apalagi ketika perempuan memiliki penghasilan. Hal itu cukup menjadi pembuktian bahwa dia bisa hidup tanpa laki-laki.

Belum lagi masalah terkait pengasuhan anak. Suka tak suka, perempuan pekerja memilih membayar orang lain untuk memelihara dan membesarkan anak-anak. Sebuah survei PEW Research Center (2013) di AS melaporkan lebih 50% responden memilih anak-anak lebih baik dengan ibu yang tidak memiliki pekerjaan dan berada di rumah sepanjang waktu.

Melewatkan pengasuhan anak ternyata mempengaruhi kesejahteraan mental anak-anak. Bahkan di Swedia yang menjadi Top 4 dalam kesetaraan gender. Lebih dari 90% anak dari usia 18 bulan hingga 5 tahun yang berada dalam penitipan anak justru memiliki masalah disiplin tertinggi di Eropa. Ini adalah masalah dan hutang pada generasi.

Begitu berat hidup berumah tangga. Tak pelak, turut berkembang perilaku menunda atau menghindari memiliki anak demi mengejar karier. Dengan menolak melahirkan, bagaimana mereka mampu mewujudkan fitrah keibuan yang telah diberikan Allah Swt.? Apalagi kini dunia maju telah tertimpa population ageing, yakni jumlah kelahiran menurun drastis di berbagai belahan dunia.

Fatalnya, saat nafsu seksual perlu penyaluran, justru manusia sekuler melakukan perbuatan terlaknat seks bebas, aborsi hingga LGBT sebagai gaya hidupnya. Nauzubillah!

Inilah fenomena kerusakan yang dirasakan di seluruh penjuru dunia. Bagaimanapun, Kapitalisme beserta turunannya—demokrasi, liberalisme, hingga kesetaraan gender—adalah sistem destruktif hingga mampu menghancurkan tatanan masyarakat. Inilah penyebab utama penderitaan perempuan.

Untuk menghentikan destruksinya, butuh solusi struktural bukan individual ataupun komunal. Dunia butuh Khilafah. Negara yang memiliki wibawa untuk menolak keterpurukan perempuan. Perempuan ditempatkan di tempat yang mulia sebagai ibu dan Istri. Dengan perannya yang ditetapkan oleh Sang pencipta. Ketundukan perempuan dalam syariah menghantarkannya meraih ridha Allah SWT dan kebahagiaan abadi di SurgaNya.

Khilafah juga menolak pada undang-undang kufur internasional untuk memerah perempuan. Khilafah menghentikan hegemoni kapitalisme yang merusak perempuan dan Khilafah satu-satunya memiliki kemandirian untuk melaksanakan hukum Islam kaffah. Hanya Khilafah yang mampu melaksanakan semua ketentuan Allah sekaligus menjamin keberkahan kehidupan termasuk perempuan. Tanpa iming-iming kebahagiaan semu pada perempuan.[]

Oleh: Alin FM (Praktisi Multimedia dan Penulis)

Visualis : Thery