Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

MK.COM – Siapakah nenek moyang bangsa Indonesia dan dari manakah mereka berasal? Pertanyaan ini mungkin kerapkali muncul di benak pikiran kita, termasuk saya. Namun apa daya, pertanyaan itu belum terjawab sempurna dan ilmiah semasa sekolah dulu. Pada akhirnya saya dipaksa mempercayainya melalui sebuah lagu anak-anak yang berjudul nenek moyangku seorang pelaut. Cukup sampai di situ. Lalu pertanyaan itu lalu punah seiring berjalannya waktu.

Hingga sebuah kelas sejarah yang diadakan oleh Institut Literasi Khilafah & Indonesia (ILKI) yang diampu oleh Ustadz Septian AW, memanggil dan menghantarkan kembali pertanyaan yang telah terkubur lama itu dengan tema pembahasan kelas yang berjudul : ”Asal Usul dan Nenek Moyang Bangsa Indonesia.”

Kali ini hadirnya kelas ini dengan suasana, pemahaman dan sudut pandang yang berbeda pada diri saya dari pada masa-masa sekolah dahulu. Jika dahulu kita dipaksa menerima sebuah materi pelajaran tanpa penjelasan yang memuaskan akal, diperparah dengan adanya pertentangan antara isi materi pelajaran Agama dengan pelajaran Sejarah soalan asal usul manusia, maka di kelas ini kita justru menemukan benang merah antara materi pelajaran agama dengan fakta sejarah atau materi pelajaran sejarah yang ada.

Dari Sebuah Ayat Al-Qur’an

Pembahasan diawali dari salah satu surat yang terdapat dalam Al-Qur’an yakni :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهٗ هُمُ الْبَاقِيْنَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. As-Saffat [37] : 77)

Dalam ayat tersebut, Allah mengatakan bahwa Allah menjadikan anak keturunan atau anak cucu Nabi Nuh sebagai orang – orang yang melanjutkan keturunan ke seluruh penjuru Dunia. Oleh karenanya, Nabi Nuh dikatakan sebagai Bapak seluruh umat manusia setelah Nabi Adam. Semua keturunan Nabi Adam di muka bumi ini nasabnya kembali kepada ketiga anak Nabi Nuh yaitu, Sam, Ham & Yafitz.

Jika demikian, maka pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah bagaimana perjalanan keturunan Nabi Nuh sampai ke tanah Nusantara hingga menjadi cikal bakal penyebaran umat manusia yang ada di Indonesia juga menjadi asal usul nenek moyang Bangsa Indonesia? Beberapa teori dan fakta sejarah mengungkapkan hal tersebut, dan inilah benang merah yang menjadikan sebuah keterikatan di dalamnya.

Teori Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Indonesia memiliki kondisi geografis yang sangat unik. Salah satunya karena diapit oleh dua benua dan samudera. Indonesia menjadi tempat pertemuan beberapa lempeng besar yakni Lempeng Eurasia di barat, Lempeng Indo-Australia di Selatan dan Lempeng Pasifik di timur laut.

Oleh karena kondisi geografis yang unik dari Indonesia ini, yang membawanya ke dalam kemunculan ke 3 (tiga) teori besar soalan asal usul nenek moyang bangsa Indonesia yaitu :

1. Teori Yunan

Teori ini berpendapat bahwa asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, sebuah wilayah Tiongkok Selatan. Orang-orang China kuno dipercaya masuk ke Nusantara melalui hulu-hulu sungai besar yang ada di daratan Asia. Pada akhirnya teori ini dianggap tidak akurat dan lemah karena hanya melihat pada bukti – bukti kesamaan secara fisik dan temuan benda – benda bersejarah yang mirip saja. Oleh karena itu digunakan pendekatan lain dalam menggali asal usul nenek moyang bangsa Indonesia, yakni dengan pendekatan kebahasaan.

2. Teori Linguistik

Teori ini berpijak pada studi ilmu linguistik Dr.H.Kern seorang ahli bahasa yang meneliti sebanyak 113 bahasa daerah di Indonesia pada tahun 1899. Penelitian ini membawa kepada suatu kesimpulan bahwa keseluruhan bahasa yang digunakan oleh suku-suku yang ada di Indonesia ternyata berasal dari satu rumpun yang sama yaitu rumpun Austronesia. Teori ini kala itu dianggap lebih kuat ketimbang teori sebelumnya yaitu teori Yunan.

3. Teori Genetika

Seiring dengan majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka pendekatan lain pun juga dilakukan untuk mengetahui asal usul nenek moyang bangsa Indonesia, yakni dengan pendekatan genetika. Teori ini berpijak pada penelusuran asal-usul manusia berdasarkan dengan penelitian kromosom maupun DNA-nya. Dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2018 terhadap 3.700 orang Indonesia berasal dari 35 etnis berbeda, diketahui bahwa semuanya memiliki kecocokan genetika dengan bangsa Austronesia.

Dari ketiga teori besar itulah maka kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari rumpun Austronesia yang berasal dari Kepulauan Formosa (Taiwan) yang telah berkembang 6000 tahun yang lalu.

Kesimpulan

Bagaimana kaitannya dengan firman Allah SWT yang terdapat pada QS. As-Saffat ayat 77 di atas yakni saat Allah mengatakan bahwa anak cucu keturunan nabi Nuh akan melanjutkan keturunan? Benang merahnya adalah bahwa beberapa teori yang muncul soalan asal usul nenek moyang bangsa Indonesia ternyata mendukung dan menguatkan firman Allah dalam Al-Qur’an sebelumnya karena ditemukan jejak penyebaran umat manusia ke berbagai belahan bumi.

Kerumunan rumpun Austronesia yang berada di Taiwan diketahui merupakan anak keturunan nabi Nuh dari anaknya yang bernama Yafits bin Nuh yang melakukan migrasi hingga ke wilayah Nusantara. Keturunan Yafits bin Nuh ini memiliki ciri-ciri warna kulit yang kuning dan merah. Sementara, diketahui pula bahwa wilayah Nusantara sendiri telah berdiam penduduk asli yang memiliki ciri–ciri berkulit gelap dan kelabu. Penduduk asli Nusantara ini merupakan anak keturunan nabi Nuh dari anaknya yang bernama Ham bin Nuh.

Dari pertemuan kedua keturunan tersebut terjadilah proses adaptasi, asimilasi dan akulturasi. Sehingga menghasikan ras yang mayoritas berada di Indonesia. Yakni mempunyai kulit berwarna sawo matang dan kecoklatan seperti yang banyak kita temui saat ini.

Dari sinilah, ada beberapa kesimpulan akhir yang didapatkan :

Pertama, sebuah kekeliruan yang sangat besar jika manusia purba dikatakan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Mengapa? Karena sedari awal landasan pijakan pemikiran yang digunakan saling bertolak belakang atau bertentangan.

Para evolusionis (kaum yang menganut paham teori Darwin) menganut paham atheis sosialis (tidak mengakui adanya keberadaan Allah) dan memandang segala sesuatunya bersumber dari materi saja. Berbeda dengan umat Islam yang melandaskan pijakan pemikirannya pada aqidah Islam. Islam mengakui adanya keberadaan Allah dan adanya proses penciptaan manusia.

Kedua, bahwa terdapat keterkaitan yang erat antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan ilmiah yang dikembangkan oleh manusia. Ilmu pengetahuan ilmiah mendukung dan menguatkan ilmu agama. Seperti apa yang dinyatakan Ustadz Septian (Sejarawan dan Founder ILKI) bahwa salah satu fungsi dari mempelajari sejarah adalah memperkokoh keimanan (aqidah) kita dan semakin meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49] : 13)

Wallahu’lam bish showwab.[]

Penulis : Sari Hermalina Fitri, SE (Pegiat Sejarah & Literasi ILKI)

 

Tags: