Kartini Bukan Simbol Emansipasi

MK.com – Tanggal 21 April kita kenal dengan hari Kartini, dalam rangka menghargai jasa-jasa Kartini. Sosok RA. Kartini dianggap sebagai simbol bagi emansipasi, yang membebaskan kaum perempuan dari kemarjinalan. Selanjutnya Kartini dijadikam ikon bagi berbagai isu feminisme, dalam perjuangan kalangan feminis untuk kesetaraan gender.

 

Amat disayangkan selama ini terjadi distorsi dalam sejarah Ibu Kartini. Alih-alih memperjuangkan kesetaraan gender dalam semua aspek kehidupan, Kartini memiliki semangat yang luar biasa ketika ngaji bersama gurunya, KH. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat. Berbagai kegelisahan Kartini mendapatkan pencerahan setelah ia bertemu Kiai Sholeh Darat.

 

Awalnya Kartini sangat takjub dengan penjelasan Kiai Sholeh tentang makna surat Al-Fatihah. Kandungan makna induk Al-Qur’an itu begitu indah menggetarkan sanubari Kartini. Selanjutnya didorong semangat dan keinginan Kartini yang begitu besar untuk mendalami ilmu Islam, ia mendorong Kiai Sholeh agar menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa, sehingga orang awam dapat memahami Al-Qur’an.

 

Betapa bahagianya Kartini di hari pernikahannya, Kiai Sholeh memberi hadiah kitab terjemahan ke bahasa Jawa dari Al-Qur’an jilid pertama yang terdiri dari 13 juz dari surat Al Fatihah sampai surat Ibrahim (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an). Namun di tengah semangat membara Kartini dalam ngaji kepada Kiainya, Allah memanggil Kiai Sholeh keharibaanNya. Sehingga jilid kedua dari terjemahan Al-Qur’an tersebut belum diselesaikan.

 

Dari perjalanan spiritualnya bersama Kiai Sholeh, Kartini merasa senang ternyata di dalam Islam, kaum perempuan diwajibkan menuntut ilmu. Ia mendapatkan angin segar dari ide-ide Islam yang ia pelajari. Yang patut pula digarisbawahi tujuan pengajaran dan pendidikan untuk kaum perempuan bukan untuk menjadi saingan bagi laki-laki. Justru perempuan wajib menuntut ilmu dalam rangka menjalankan kewajibannya sebagai ibu, pendidik manusia pertama. Hal ini dituangkan dalam surat Kartini kepada Profesor Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902.

 

Awal mula masyarakat Indonesia merasa inferior dengan budayanya sendiri karena pengaruh penjajahan Barat yang demikian menghujam pada masyarakat. Penyebab dari keterbelakangan masyarakat pribumi ini disebabkan rendahnya pendidikan. Dengan semangat itu, Kartini mengajukan kepada pemerintah Belanda sebuah nota yang berjudul “Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa”.

 

Menariknya Majalah Wanita FR membuat suatu pernyataan; “Andai Kartini Khatam Mengaji” kemudian menjadi artikel yang diterbitkan. Ya, andai saja Kartini menuntaskan kajiannya bersama Kiai Sholeh Darat, maka Kartini lebih paham keseluruhan ajaran Islam yang dinukil dari Al-Qur’an. Kemudian memperjuangkan seluruh kandungan ajaran Al-Qur’an.

 

Tak heran jika Kartini juga mengkritik peradaban Eropa. Kartini m sebagai beranggapan masyarakat Eropa memiliki kehidupan yang tidak layak disebut peradaban. Kartini justru amat tertarik dengan peradaban Islam.

 

Dari sini jelaslah Kartini bukan pejuang kesetaraan gender. Kartini bukan simbol pada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di dalam semua bidang kehidupan. Perjuangan Kartini adalah agar perempuan mendapatkan pendidikan yang layak. Jika perempuan berpendidikan, maka mampu mendidik putra-putri bangsa menjadi generasi cemerlang dan terdepan, tidak mudah dijajah.

 

Hal ini sebagaimana ajaran Islam yang dipelajari oleh Kartini. Yakni kedudukan perempuan yang mulia dan sebagai penyangga bagi laki-laki (fungsi tulang rusuk). Perempuan mendampingi laki-laki serta menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Tak sepatutnya perempuan diberikan beban mencari nafkah. Apalagi jika harus keluar rumahnya menjadi TKW yang bekerja di negeri orang. Kalau sudah begini bagaimana memberikan perlindungan pada perempuan?

 

Karena itulah framing Kartini sebagai simbol emansipasi perlu diluruskan. Lalu menegaskan bahwa Islam memiliki pengaturan atas perempuan yang anti diskriminasi dan sungguh menempatkan perempuan pada kemuliaan. Islam memberi gambaran peran perempuan sesuai fitrahnya. 

 

Alih-alih menobatkan Kartini sebagai pejuang kesetaraan gender, Kartini justru memperjuangkan pokok-pokok ajaran Islam. Salah satu bukunya yang terkenal “Dari Gelap Terbitlah Terang” contohnya, terinspirasi dari Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 193. Minazh zhulumati ilannuur, yang artinya dari kegelapan menuju cahaya. Yang dimaksud kegelapan ini adalah segala bentuk penjajahan, pembodohan, penindasan, penderitaan, kemiskinan, dsb. Dan cahaya ini adalah cahaya Islam yang akan menerangi dan membawa perempuan keluarga dari kegelapan tersebut.[]

 

Penulis : Crafty Rini Putri (Aktivis Milenial)

Rate this article!