Sesulit Apakah Mendefinisikan Tujuan Hidup?

MK.COM –  Pertanyaan ini pernah saya ajukan pada beberapa mahasiswa, “Apa yang kalian cari dalam hidup ini?” Ternyata jawaban yang saya dapatkan dari mereka bermacam-macam. Mulai dari ingin cepat lulus dan dapat kerja, hidup bahagia, bisa segera menikah, dll. Wajar memang. Karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda melihat kehidupan ini.

Hal serupa ternyata dialami oleh salah satu sahabat saya, Brother Abdullah, seorang fotografer dari UK. Peristiwa ini terjadi puluhan tahun silam saat dia masih berusia belasan tahun dan belum memeluk Islam.

Brother Abdullah dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan Kristiani. Ibunya seorang Kristiani yang taat sedangkan ayahnya seorang pastor. Orang tuanya berasal dari Jamaika namun Brother Abdullah lahir di UK.

Sejak kecil ia sudah merasakan kegelisahan dan berusaha menemukan jawaban atas kegelisahan tersebut. Namun ia tidak menemukan jawaban yang ia cari di agama yang membesarkannya. Justru ia menemukan kebingungan demi kebingungan. Brother Abdullah terus mencari di agama yang lain.

Saat itu, ia memiliki salah satu sahabat dekat seorang muslim. Inilah pertama kali ia berinteraksi dan sedikit mengetahui kebiasaan seorang muslim. Shalat lima waktu dan berpuasa di saat Ramadan. Sejauh itu tidak ada hal negatif tentang Islam yang diterimanya. Jadi ia tidak merasa bermasalah bersahabat dengan muslim. Kebetulan beberapa sahabatnya juga muslim dan ada pula yang beragama lainnya.

Hingga suatu saat, guru di kelasnya hendak membahas tentang tujuan hidup. Usia Brother Abdullah seingatnya waktu itu sekitar 11 atau 12 tahun. Kelas yang dia ikuti adalah pelajaran umum di primary school (selevel SD di Indonesia). Dia dan sahabat muslimnya sangat antusias datang ke kelas lebih awal. Padahal sebelumnya tidak seperti itu.

Sang guru meminta murid-murid mendiskusikan tujuan hidupnya. Ternyata pertanyaan sederhana ini membutuhkan jawaban yang tidak sederhana. Itulah yang dirasakan Brother Abdullah. Sebagaimana murid lainnya, ia pun tidak bisa menjawabnya. Akhirnya sang guru memberikan buku kepada murid-muridnya dan meminta mereka menuliskan keyakinannya.

Saat sang guru tadi mendatangi teman muslimnya, teman Brother Abdullah tersebut menuliskan di bukunya. Bahwa dia percaya Allah. Dia percaya bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kelak di hari pembalasan. Sang guru menyanggah, “Tuhanmu sungguh tidak adil! Dia tahu kau akan berbuat dosa dan Dia mendapatkan keuntungan dengan memberimu hukuman karena dosamu!” Teman muslim Brother Abdullah menegaskan, “Seluruh anggota tubuhnya kelak akan bersaksi di hari pembalasan dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.”

Apa yang diucapkan teman muslimnya sungguh berkesan begitu mendalam dalam benak Brother Abdullah. Kejadian itu terus terekam kuat dalam ingatannya hingga bertahun-tahun kemudian. Sebuah kesan mendalam bagi Brother Abdullah terhadap Islam untuk pertama kalinya.

Sampai di sini, saya teringat kitab Nizamul Islam bab Thariqul Iman karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani. Tujuan hidup manusia adalah beribadah pada Allah dalam arti luas (QS. Az-Zariyat: 56). Yakni tunduk patuh menaati seluruh hukum Allah secara kaffah sebab semua itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir. Dunia ini adalah ujian. Barang siapa yang menaati perintah Tuhannya maka kelak layak mendapatkan balasan surga. Sebaliknya, barang siapa mengingkari syariat-Nya, niscaya neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Dalam bab ini Syekh Taqi menjelaskan, terurainya uqdhatul kubra (simpul besar) dalam kehidupan manusia, yakni tiga pertanyaan mendasar — manusia berasal dari mana, apa tujuan hidup dia diciptakan, dan setelah kehidupan ini mau ke mana — maka ia akan menjadi sosok yang sanggup menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah cabang dalam kehidupannya. Syaratnya, ia harus mengurai tiga pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sahih. Yakni bersumber pada akidah yang sahih.

Dialah akidah Islam. Akidah yang bersumber dari Zat Pemilik Kehidupan. Akidah yang darinya dibangun pemikiran-pemikiran cabang dalam kehidupan, yang mengaitkan antara sebelum penciptaan manusia, alam, dan kehidupan; kehidupan hari ini di dunia; dan kehidupan setelah berakhirnya kehidupan dunia, yakni akhirat.

Dialah akidah yang mengajak manusia berpikir mustanir (cemerlang). Melibatkan kehadiran Al-Khalik (Pencipta) sekaligus Al-Mudabbir (Maha Pengatur) dalam kehidupannya. Sehingga manusia menjalani kehidupan ini atas suasana keimanan dan menjadi sosok yang memiliki pengendali diri. Ia menjadi pribadi yang tumbuh dalam benteng keimanan kokoh, tidak mudah tergerus oleh arus dan ketika bertindak ataupun mengambil keputusan berlandaskan hukum Allah, bukan hawa nafsunya.

Inilah karakter generasi emas dalam tatsqif (pembinaan) Rasulullah di rumah Al-Arqam. Generasi hebat yang mampu mengantarkan Islam menjadi mercusuar peradaban dan mewujudkan peradaban agung yang memuliakan manusia selama 13 abad.

Ya, sejatinya fitrah manusia akan senantiasa tertunjuki ke arah cahaya kemuliaan Islam. Sayangnya, sumber cahaya ini harus dicari. Agar pancarannya tidak tertutup oleh pekatnya kegelapan. Sebagaimana Brother Abdullah saat mengalami kegelisahan hebat. Ia merasa tidak mampu menuntun hidupnya sendiri. Di saat seperti itulah, ia menangis mengadu pada Tuhannya. Agar Tuhannya segera menuntun langkahnya, membimbingnya. Meski jalan menuju Islam itu membutuhkan waktu belasan tahun setelah dia kebingungan menuliskan tujuan hidupnya.

Menginjak usianya 22 tahun, cahaya Islam berhasil menyinari kalbunya. Akhirnya, ia bisa mengurai uqdhatul kubra dalam hidupnya dan ia pun menemukan jawaban yang sahih atasnya. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap tetes air mata dan pintalan doa penuh pengharapan dari para hamba yang ingin kembali pada fitrahnya yang lurus.[]

Oleh: Lely Noormindhawati (Redaktur MK.Com)

Visualis : Atirah Zahriani