Al-Liwa di Bab Al Hawa Suriah

Photo by : Abdullah Bailey

 

MK.COM – Sebuah bendera putih besar bertuliskan kalimat tauhid berkibar dengan gagah. Tertulis di-caption, perbatasan di sisi Suriah. Saya mengamati dengan saksama. Sejenak terlintas di benak, foto yang pernah saya ambil tahun 2015 pada even Rapat dan Pawai Akbar di Kenjeran, Surabaya. Bendera yang sama, Al-Liwa. Bendera putih Rasulullah. Yang membedakan keduanya adalah ukuran, tempat, dan momentum.

Dari sisi spirit, saya bisa merasakan hal yang sama. Kerinduan membuncah akan terwujudnya persatuan global umat Rasulullah di bawah panji-panji tauhid. Cita-cita besar mengembalikan peradaban agung yang pernah menjadi mercusuar peradaban dunia selama 13 abad. 

Apa yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Begitulah saya meyakini. Fotografi memang bukan dunia yang membesarkan saya sebagaimana saya bergelut dalam dunia literasi lebih dari sebelas tahun terakhir. Namun, ia adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Sebuah passion yang saya temukan karena keterpaksaan. Terpaksa saya belajar karena tuntutan dari penerbit agar penulis pun memiliki kemampuan fotografi, tidak asal mencomot foto dari internet. Dan tentu saja juga lecutan dari editor yang menggembleng para penulis agar mampu menuangkan tulisan bernutrisi dan memberikan kemampuan terbaiknya. Bukan sekedar popularitas instan. Jika best seller dan terkenal, anggap saja itu bonus dari Allah.

Alhamdulillah, saya bersyukur dipertemukan dengan para editor luar biasa. Bersabar menikmati proses saat pisau bedah mereka menguliti seluruh tulisan saya dan kemudian mereka meminta saya memperbaikinya dengan tenggat waktu yang telah ditentukan. Sebuah proses yang sering kali terlewatkan oleh para penulis di platform digital saat ini. Zaman memang sudah berbeda.

Sebuah pesan dalam bahasa Inggris terkirim dari ponsel saya untuk Brother Abdullah. Saya mengenalnya saat konferensi internasional secara virtual di UK akhir Oktober 2020, Return of the Islamic World Order. Kami memiliki passion yang sama, fotografi. Bedanya, dia menekuni fotografi secara professional. Untuk dakwah, misi kemanusiaan maupun komersial. Termasuk dunia sinematografi dan menjadi man behind the camera sejumlah even penting di UK, termasuk pada konferensi yang saya ikuti ini.

Sedangkan saya, mencukupkan diri menjadikan fotografi sebagai bagian dari lembaran perjalanan hidup saya. Mencoba memaknai kebesaran Sang Pencipta dan merekam geliat perjuangan meninggikan kalimat-Nya melalui jendela bidik lalu membekukannya. Setidaknya itulah yang bisa saya lakukan untuk saat ini.

Di Suriah? Saya memastikan foto yang saya maksud.

Brother Abdullah membenarkan. Tahun 2013 di perbatasan Bab Al Hawa. Dia ke sana untuk sebuah misi kemanusiaan dan kembali lagi tahun 2017 untuk mendokumentasikan bantuan ambulans dari UK untuk Suriah. Sebuah film pendek yang berhasil mengurai air mata saya. Saya merasa dekat dengan sakaratul maut saat melihat tubuh-tubuh bersimbah darah itu berada di ambulans dalam perjalanan menuju rumah sakit. Raungan sirine iring-iringan ambulans membelah malam yang pekat, penuh duka.

Betapa luar biasanya penderitaan saudara-saudara kita di Suriah. Setiap hari hidup di bawah bayang-bayang ledakan bom. Bersahabat dengan darah dan air mata. Misi-misi kemanusiaan tersebut memang sedikit membantu mereka bertahan hidup, tapi tidak pernah mampu menghentikan penindasan yang mereka alami.

Sungguh ini membuat hancur hati saya. Saya yakin tidak akan sanggup mengabadikan momen tersebut dengan kamera saya jika saya berada di sana. Saya menyampaikan ini pada Brother Abdullah. Dia membenarkan, memang sangat sulit situasi yang dialami saudara-saudara muslim di Suriah.

Brother Abdullah mengirimkan sebuah video pendek pengibaran Al-Liwa. Saya pun memastikan, apakah dia yang merekam? Apakah yang mengibarkan bendera tersebut ISIS?

Ternyata bukan Brother Abdullah yang merekam. Menurut yang ia ketahui, bendera itu tidak ada hubungannya dengan ISIS. Al-Liwa akan dikibarkan di setiap wilayah yang berhasil dibebaskan oleh saudara-saudara muslim Suriah sekaligus sebagai pertanda kawasan tersebut menjadi zona damai.

Saat 2017 Brother Abdullah kembali ke sana, alhamdulillah bendera tersebut masih berkibar. Dia mendoakan semoga Allah segera memenangkan Islam dengan tegaknya kembali peradaban warisan Rasulullah, Khilafah ‘ala min hajji nubuwwah. Saya pun mengaminkan. Peradaban kapitalis ini sudah sekarat. Cukup sudah seratus tahun umat Islam diliputi kehinaan dan hidup dalam penderitaan tanpa adanya junnah (perisai). Kini saatnya peradaban Islam kembali tampil untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Dan kabar gembira tersebut telah disampaikan Rasulullah SAW ratusan tahun silam.

تَكُوْنُ النُّبُوَّة فِيْكُمْ مَا شَاء اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُم يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاء أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُم تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

”Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud Ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

Bisyarah Rasulullah itu telah terang benderang. Kembalinya Khilafah adalah keniscayaan dan telah dirindukan umat.[]

Oleh: Lely Noormindhawati (Redaktur MK.Com)

Visualis : Atirah Zahriani

Rate this article!
Tags: