Apel Merah, Sah!

Photo by : Lely Noor

MK.COM – September 2020, RawFlow merilis track baru berjudul Kashmir. Mereka adalah rapper dari UK, beranggotakan tiga orang. Brother Ninja, Sabo, dan Rackz. Menyimak video Kashmir membersitkan rasa penasaran tersendiri bagi saya.

Pertama, saya terkesan dengan nasyid bergaya rap. Di Indonesia, sangat jarang orang menggunakan ini sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Namun beberapa waktu terakhir di musim pandemi, saya justru dipertemukan dengan rapper muslim UK dan Kanada. Cukup menyentil lirik yang mereka serukan. Dari masalah spiritual, krisis keluarga hingga sosial. Saya sangat menikmati street dakwah seperti ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Dikemas ringan tapi cukup mengena.

Yang kedua adalah lirik yang diusung oleh RawFlow. Sangat beda. Bagi saya malah terasa sangat ideologis. Betul-betul unik. Berhubung mereka menggunakan bahasa Inggris gaya slang, street languange, membuat saya kurang mudah memahaminya. Padahal dulu zaman MTV happening di Indonesia, saya adalah penikmat rap dan cukup mengerti aksen-aksen tersebut. Namun karena sudah puluhan tahun tidak pernah berinteraksi lagi, membuat saya kurang cepat memahami. Butuh mengulang track RawFlow, khususnya Now We Are Free beberapa kali untuk meyakinkan apa yang saya dengar memang betul adanya.

Untuk memastikan tersebut, saya meminta lirik Now We Are Free (cover Gladiator) ke salah satu personel mereka. Sayangnya, mereka tidak menyediakan subtitle bahasa Inggris. Mereka meminta maaf, mungkin di video selanjutnya akan disediakan subtitle atau jika brothers yang lain mau melakukan,  mereka akan mencantumkannya di deskripsi video.

Ah, saya dari Indonesia. Kurang familiar dengan aksen mereka. Batin saya, biasanya saya tidak mengalami kesulitan memahami aksen-aksen beberapa brothers yang saya temui. Saya baru menyadari ini ketika Brother Ninja menyebutkan dialek slang London Timur. Menurut Brother Ninja, mereka yang menguasai bahasa Inggris dengan baik mampu memahami bahasa slang Inggris-AS maupun Inggris-UK. Saya jadi tertawa dalam hati. Mengapa kesadaran saya akan hal ini muncul begitu lambat.

Yang cukup menggelitik hati saya, dilirik tersebut mereka ingin mengulang penaklukan Konstantinopel, menegakkan Ad-Daulatul Islamiyyah yang akan membebaskan Suriah, Palestina, Khasmir, Yaman… dan di akhir mereka juga menyebutkan persatuan umat Rasulullah di bawah bendera putih dan bendera hitam. Al-Liwa’ dan Ar-Rayah kah yang dimaksud?

Straight to the point. Saya memang tidak berbasa basi. Saya menanyakan apa yang mereka maksud Ad-Daulatul Islamiyyah? Brother Ninja balik bertanya, apakah secara bahasa? Sepertinya Brother Ninja ingin memastikan, apakah saya ingin mengetahui maknanya secara bahasa. Saya menjawab tidak. Saya memahami artinya. Saya mengerti bahasa Arab.

Brother Ninja mulai menjelaskan. Ia menceritakan impian kaum muslimin untuk mendapatkan kekuatan dan mendirikan negara Islam yang sah sekali lagi. Jawaban ini membuat saya makin penasaran dan saya pun bersiap mengajukan beberapa pertanyaan berikutnya.

Brother Ninja menjelaskan, “Saya kira ini keinginan setiap muslim. Jadi sah. Hanya negara Islam sejati yang berdasarkan pada pemerintahan syariah yang dapat menegakkan keadilan sejati di bumi dan mengalahkan para penindas. Inilah yang diajarkan sejarah Islam.”

Jawaban yang membuat saya terkesima. Saat saya menuliskan ini, tepat 100 tahun umat Islam di seluruh dunia kehilangan pelindungnya, Ad-Daulatul Islamiyyah, yakni Khilafah Islam. Berbagai bentuk penindasan, ketidakadilan, kezaliman telah mendera umat Islam di berbagai negeri. Nestapa tanpa berkesudahan.

Dalam percakapan kami, beberapa kali Brother Ninja mengucapkan kata ‘sah’. Dalam hati, saya kembali tertawa. Jadi sah-sah saja kita memimpikan dan menginginkan Khilafah Islam kembali tegak. Bukankah Khilafah ajaran Islam dan warisan berharga Rasulullah selain Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Sepertinya Brother Ninja melihat saya sangat antusias dalam percakapan ini. Akhirnya ia mengirimkan satu part lirik bagiannya dan maknanya sangat dalam. Benar-benar tidak salah, mengapa saya selalu terharu dan sering memutar ulang Now We Are Free.

Terjemahan part tersebut sebagai berikut.

Saudaraku sekarat tanpa rasa takut. Mereka membuat kita peka melalui perang. Jiwa saya menangis tanpa air mata.  Berada di luar sini, harus tetap berharap, pembebasan sebagaimana ketika gladiator sejati menaklukkan Konstantinopel. Dan menulis ulang sejarah Apel Merah milik kita untuk dipegang. Jadi berpeganglah yang kuat pada tali dan renungkan, milik kita.

Kelemahan memungkinkan mereka untuk memecah belah dan menaklukkan kita. Saudara-saudaraku, kita harus tetap lebih kuat. Penderitaan ini tidak bisa dilanjutkan lebih lama lagi. Penjara waktu ini adalah saat kita sendirian bersama Tuhan agar disayangi.

Terbunuh sebagai martir dan pengasingan adalah perjalanan spiritual. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku layak? Sementara para pejuang kita yang terampil terus menunggu, untuk kebangkitan, menegakkan negara ketuhanan, Ad-Daulatul Islamiyyah, untuk bangkit dan melawan…

Melawan penindasan, menghilangkan agresor, dan memerdekakan Suriah, Kashmir, Yaman, Palestina… dari cengkeraman orang-orang yang menipu agar kembali langsung ke tangan orang-orang yang beriman.

Nah, kita tidak akan pernah pergi. Umat kita menjadi sia-sia dan bahkan jika berabad-abad berlalu tetap bersabar, tidak pernah berpisah dari cobaan dan kesengsaraan. Karena itu, ujian-ujianlah yang memisahkan antara yang benar dari yang salah. Hanya bisa berdoa kepada Allah agar diberi kelancaran. Para mukmin akan menemukan kebaikan dalam segala situasi…

Apel merah adalah metafora dari Konstantinopel. Khilafah Turki Utsmaniyyah menyebut Konstantinopel sebagai Kizil Elma, apel merah. Dan inilah part yang selalu sukses membuat mata saya basah!

Saya terharu, sedih, dan sekaligus miris. Di saat mereka yang nota bene adalah minoritas begitu gigih dengan mimpi-mimpi tersebut, justru di negeri yang mayoritas muslim ini, geliat kebangkitan untuk mengembalikan kemuliaan Islam dihadang, dipersekusi, difitnah. Bahkan beberapa dijebloskan ke penjara, dicap radikal, hanya karena merekalah yang selama ini gigih menyuarakan Khilafah.

Bukankah secara dalil syar’i sudah jelas bahwa Khilafah ajaran Islam? Mengapa malah disejajarkan dengan ajaran komunis yang nyata-nyata batil dan terlarang? Mengapa tidak pernah mempermasalahkan sistem kapitalis yang hanya menghasilkan peradaban sampah dan kerusakan demi kerusakan di negeri ini? Harusnya semua pihak fair, berpikir objektif, menggunakan nalar daripada terus-terusan mengumbar narasi kebencian. Alangkah indahnya jika duduk bersama, menggagas solusi riil untuk bahtera negeri ini yang sudah oleng. Apakah harus menunggu ambruk dulu, baru mau tersadar?

Jika itu dibiarkan terjadi, tentu akan sangat terlambat dan hanya menyisakan penyesalan. Sungguh manusia akan mengalami kerugian besar karena Allah telah mengingatkannya dengan jelas melalui kalam-Nya.

“Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 27).

Cukuplah ayat-ayat Allah sebagai peringatan sekaligus penyadaran. Agar manusia kembali kepada sistem terbaik yang pernah berjaya selama 13 abad sebagai mercusuar peradaban dunia, Khilafah Islam yang mengikuti metode kenabian.[]

Oleh: Lely Noormindhawati (Redaktur MK.Com)

Visualis : Atirah Zahriani

Rate this article!
Apel Merah, Sah!,0 / 5 ( 0votes )
Tags: