Reportase : Aturan Jilbab Dari Sang Khalik

MK.COM – Bebarapa hari lalu ada video yang menghebohkan jagad maya di Indonesia. Video orang tua protes kepada pihak sekolah, konon katanya anak perempuannya dipaksa berjilbab di salah satu sekolah di Padang. Aksinya barlanjut menyurati komnas HAM dan juga Mendikbud. Hal ini sangat menarik dibahas sebab kita memahami berjilbab adalah aturan dari Sang Khalik yang wajib kita jalani.

Menyikapi hal tersebut, pada 12 Februari 2021, Smart With Islam Muslimah Bangil mengadakan forum bedah Buletin Teman Surga (BTS) edisi 150 yang bertema “Sis, Aturan Jilbab Ini Dari sang Khalik”. Forum ini dilaksanakan melalui WAG (Whatsapp Group) Smart With Islam dan disambut dengan antusias oleh para member WAG tersebut.

Bu Chamdiah selaku moderator membuka forum dengan doa awal majelis, dilanjut dengan memperkenalkan dua pemateri yang luar biasa, yaitu Kak Yuli dan Kak Atikah. Kemudian lanjut pada sesi diskusi.

“Beberapa waktu lalu ada peristiwa pelarangan hijab di salah satu sekolah. Nah, kalau kak Yuli dan kak Atikah ini kenapa memakai hijab?” tanya Bu Chamdiyah.

“Alasan kenapa pakai jilbab itu karena sebagai muslimah dan beriman kepada Allah. Jadi gak ada alasan bagi kita untuk tidak berjilbab dan menutup aurat. Karena berjilbab adalah perintah Allah yang wajib kita jalani. Ini terdapat dalam surat Al Ahzab ayat 59,” jawab Kak Yuli.

Kak Atikah sepakat dengan yang disampaikan Kak Yuli, dan menambahkan bahwa perintah berjilbab ini salah satu cara Allah menunjukkan rasa sayang dan melindungi muslimah. Kak Atikah juga menyampaikan pakaian yang sesuai syariat adalah kerudung yang menutupi dada, jubah yang menjulur ke seluruh tubuh, tidak transparan, dan tidak boleh sempit sehingga membentuk lekuk tubuh.

“Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah tentu aturan yang dipakai adalah aturan yang datang dari Allah. Sehingga siapa pun yang sudah baligh ketika keluar rumah atau ketika bertemu dengan non mahram wajib memakai jilbab. Berjilbab itu bukan pilihan, bukan pula soal rela dan dan tidak rela.”

“Berjilbab itu bukan sekedar fesyen dan gaya-gayaan saja. Tetapi memakai jilbab itu adalah tuntutan alias konsekuensi atas keimanan kita. Alasan toleransi tidak akan bisa mengubah hukum atas kewajiban berjilbab. Paham islamophobia dan paham moderat, yakni bersikap di tengah-tengah menjadi sumber lahirnya pemahaman pelarangan dan tidak wajib berjilbab. Jika paham ini masih terus diterapkan maka bukan tidak mungkin kaum muslim akan lari dari aturan Islam itu sendiri,” jelas Kak Yuli.

“Jika kita tengok sejarah, dulu non muslim di sistem Islam dengan suka rela menggunakan jilbab ketika keluar ke ranah publik seperti pasar, sekolah, dan lain-lain. Mereka menyadari bahwa itu untuk menjaga kehormatan mereka. Non muslim dibebaskan menggunakan pakaian adat mereka jika berada di lingkungan khusus agama mereka, bukan ketika ke ruang publik. Beginilah toleransi dalam sistem Islam. Ini berlaku selama 13 abad dan tidak ada yang protes, semua baik-baik saja.”

“Mari mantapkan niat, kokohkan keimanan. Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam kebaikan. Pahami agama dan segera laksanakan perintah Allah tanpa nanti tan tapi,” pungkas kak Atika

Itulah pentingnya kita menguatkan iman agar istiqamah menjalankan perintah Allah. Berkumpul dengan orang-orang saleh. Mengikuti kajian-kajian yang menambah pemahaman Islam agar tidak salah arah. Bergabung dengan kelompok-kelompok ideologis yang memperjuangkan tegaknya sistem Islam yang pernah berjaya selama 13 abad.[]Oleh : Kak Dia (Member SWI Muslimah Bangil)

Tags: