Reportase SWI – Dark Age Zaman Now

MK.com – Kehidupan saat ini sangat jauh dari ajaran Islam. Kerusakan moral merasuki para remaja. Masa yang mengutamakan kenikmatan dunia. Lebih miris lagi ilmu pengetahuan dikesampingkan. Masa seperti ini sering kita dengar dengan sebutan dark age.

Membahas lebih lanjut tentang hal tersebut, pada tanggal 21 Maret 2021, Smart With Islam Muslimah Bangil mengadakan kajian online via Zoom dengan tema “Dark Age Zaman Now”, kajian ini menghadirkan Kak Ika dan Kak Ila sebagai pemateri.

Kak Dia sebagai moderator mengawali dengan pertanyaan apa sih yang dimaksud dengan dark age? Dan negara mana yang mengalami dark age?

“Dark age adalah zaman kegelapan. Dan yang mengalami dark age adalah Eropa. Yang dimaksud Zaman kelam atau zaman kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan. Menurut Ensikopedia Amerikana, zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi,” jelas Kak Ila.

“Dark age adalah zaman kegelapan, di mana masyarakat sangat jauh dari pengetahuan. Sebelum Islam datang ke Eropa pada abad pertengahan bisa dikatakan sebagai zaman kegelapan. Kala itu yang terjadi pada masyarakat di sana sama sekali tidak mengenal kebersihan. Masyarakatnya terkenal anti mandi karena dengan alasan kesopanan dan air dianggap sebagai pembawa penyakit.”

“Setelah Islam datang, terjadilah perubahan. Mandi adalah sesuatu yang diharuskan karena bersih itu menyehatkan. Bahkan negara Islam menjadi negara pertama yang memproduksi sabun untuk membersihkan tubuh dari kuman,” tambah Kak Ika.

“Disaat Eropa mengalami dark age, Islam justru mengalami masa keemasan atau golden age. Masa ini berlangsung sejak masa Rasulullah SAW hingga masa kekhilafahan abad ke 13 Masehi. Ini terbukti sejak masa Rasulullah SAW, masyarakat sangat sejahtera, kaya ilmu dan banyak yang berijtihad. Puncak kejayaanya yaitu pada masa kekhilafahan Abbasiyah, di mana pada masa ini mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, antara lain dalam bidang sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.”

“Dari kemajuan tersebut lahirlah banyak ulama dan ilmuwan, seperti Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Ibnu Khaldun, dan lain-lain. Pada masa itu juga dibangun Universitas Baitul Hikmah, universitas yang didirikan pada masa pemerintahan Harun Al – Rasyid. Baitul Hikmah dianggap lebih dari sekedar universitas. Tempat ini sebagai pusat ilmu pengetahuan, khususnya dari bangsa Yunani dan dari timur, seperti dari India, Tiongkok dan Persia, ” jelas kak Ika.

Namun sayang, negara Khilafah yang kokoh ini justru mengalami kelemaham pada akhir masa kekhilafahan akibat lemahnya pemahaman Islam dan kurangnya penerapan syariat Islam secara kaffah. Orang-orang mulai menjauhi bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’ran, pedoman hidup manusia. Hingga pada tahun 1924 Khilafah runtuh di tangan Mustafa Kemal dengan Inggris sebagai dalangnya.

“Dan saat ini kita bisa disebut sedang mengalami masa kegelapan atau dark age zaman now. Remaja tidak lagi haus pengetahun lebih mementingkan gadget, jogat-joget di pinggir jalan tanpa rasa malu. Masa kegelapan sebelum Islam datang terulang kembali seperti miras, membunuh anak yang tak berdosa bahkan sebelum lahir (aborsi), berzina, dan lainnya. Ini diakibatakn karena tidak adanya pemahaman Islam dan kurangnya penerepan Islam secara kaffah,” ujar Kak Ika.

Maka penting bagi kita untuk menegakkan kembali Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, yang mementingkan pengetahuan dan menyejahterakan rakyat. Hanya dengan Khilafah, golden age atau masa keemasan akan dapat dirasakan lagi. Karena kunci dari kejayaan itu adalah penerapan syariat Islam secara kaffah. Sabagaimana firman Allah dalam surat Al Anbiya ayat 107 yang mangatakan bahwa Allah tidak mengutus Muhammad melainkan sebagi rahmat bagi seluruh alam. Artinya apa yang dibawa Rasulullah Muhammad (syariat Islam) adalah kunci dari rahmat atau kejayaan itu.

“Oleh karena itu kita sebagai remaja sang tonggak peradaban harus memahami ajaran Islam dengan sempurna, bergabung dengan kelompok-kelompok yang berjuang menegakkan Khilafah sebagai satu-satunya sistem yang bisa menerapkan Islam secara kaffah,” tutur kak Ika mengakhiri kajian online ini. Wallaahu A’lam bis-Shawaab.[]

Oleh : Nur Itsnaini Maulidia (Member SWI Muslimah Bangil)

Rate this article!