Kurikulum “Bebas”: Menjamin Pendidikan Berkualitas?

MK.com – Dalam rangka mengatasi kehilangan pembelajaran atau learning loss serta mengakselerasi transformasi pendidikan nasional, Kemendikbudristek menawarkan kurikulum prototipe sebagai solusi nasional. Kurikulum ini didukung oleh Komisi X DPR RI. Salah satu pertimbangan dalam memberikan dukungan terhadap kurikulum ini karena dianggap sebagai “Langkah Pembaharuan”. (Kompas.com. 31/12/2021)

Kemendikbudristek memberi opsi kepada sekolah untuk menerapkan kurikulum prototipe pada tahun ajaran 2022. Selain itu kurikulum ini dijadikan opsi solusi karena terdapat dua tujuan yaitu memberikan wewenang pembelajaran kepada sekolah sesuai kebutuhan. (Tribunnews.com, 09/01/2022)

Kurikulum ini juga dikenal sebagai kurikulum “bebas”. Pada praktiknya siswa bebas memilih mata pelajaran yang akan dipelajari. “Dan bahwa sekolah boleh dan seharusnya menyusun sendiri kurikulum operasional yang kontekstual, sesuai dengan kebutuhan murid dan kondisi sekolah.” Tulis Anindito Aditomo (Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek) dalam akun Instagramnya.

Bebas Tak Menjamin Kualitas

Kurikulum di Indonesia sudah sering berganti. Terhitung sejak merdeka hingga kini sudah 11 kali negeri tercinta ini berganti kurikulum. Namun, kurikulum yang terbaru inilah yang cukup menarik perhatian. Bagaimana tidak, kurikulum ini mengusung “kebebasan” dalam praktik di lapangan. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk pembaharuan yang diharapkan mampu memberikan perubahan dan ruang lebih luas bagi pengembangan karakter dan kompetensi dasar siswa, seperti literasi dan numerasi. (Kompas.com. 06/01/2022)

Kurikulum prototipe memuat lebih sedikit materi, dilengkapi dengan perangkat yang memudahkan guru melakukan diferensiasi pembelajaran. Misalnya, Kemendikbudristek akan menyediakan alat asesmen diagnostik untuk literasi membaca dan matematika. Kemendikbudristek juga akan membekali guru dengan berbagai contoh modul yang bisa diimplementasikan sesuai konteks. Siswa juga bebas memilih pelajaran yang akan ditempuhnya dalam satu semester.

Sekilas penerapan kurikulum tampak apik dan mudah. Namun, dengan kemampuan tiap sekolah yang tidak merata. Akankah kurikulum ini mampu menghasilkan output yang diharapkan? Penerapan yang disesuaikan dengan konteks justru membuat hasil dari penerapannya berbeda. Bukankah ini dapat memperburuk kesenjangan dan menunjukkan lepasnya negara dari penjaminan mutu pendidikan?

Arah Pendidikan Seharusnya

Sejak awal pemerintah tidak siap dengan penanganan pandemi. Ini dapat dilihat dari berbagai tanggapan petinggi negeri yang meremehkan si virus. Hal ini berdampak pada berbagai sektor termasuk pendidikan. Kisruh Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sejak awal pandemi memang sudah terjadi. Anak didik yang tadinya belajar di sekolah dengan gurunya, kini harus berganti orangtua yang notabene bertemu setiap hari. Praktis anak mengalami kebosanan dan sulitnya memahami pelajaran karena keterbatasan pertemuan (online). Di sisi lain orangtua yang tidak sabaran mengajari anak memicu darah tinggi. Ditambah lagi masalah ekonomi karena minimnya perangkat telekomunikasi seperti smartphone dan kuota yang tidak memadai.

Pendidikan negeri ini jauh sebelum pandemi sudah banyak mengalami disorientasi tujuan pendidikan. Masalah-masalah remaja seperti tawuran, geng motor, pergaulan bebas, hingga kekerasan seksual masih mewarnai anak didik kita. Mirisnya orang yang seharusnya diharapkan mampu mendidik dan menjaga anak seperti guru, orangtua dan kerabat anak justru ikut andil dalam memperburuk proses pendidikan ini.

Pendidikan menjadi prioritas utama setiap negeri. Karena output pendidikan inilah yang akan mengisi generasi di masa mendatang. Generasi yang tidak hanya pintar dari sisi intelektual namun juga cerdas dalam aspek spiritual. Generasi yang tidak hanya mampu menghasilkan berbagai penemuan hebat namun juga tunduk dengan Tuhannya dengan sebenar-benarnya taat. Mampukah kurikulum saat ini menghasilkan generasi demikian?

 

Islam menghasilkan generasi berkualitas

Dalam KBBI online kualitas adalah derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan, dan sebagainya). Menghasilkan generasi berkualitas artinya generasi yang memiliki derajat atau taraf kepandaian dan kecakapan. Islam sebagai agama sempurna dan paripurna memiliki seperangkat aturan untuk menghasilkan generasi berkualitas. Dalam kacamata Islam generasi berkualitas berarti generasi yang cerdas intelektualnya dan taat pada Allah SWT.

Untuk mewujudkan hal tersebut implementasi pendidikan Islam harus dilandasi keimanan kepada Allah SWT. Kurikulum yang dirancang oleh pemerintahan Islam tunduk pada landasan keimanan. Semua civitas akademika dibekali dengan keimanan yang kokoh. Guru mengajar bukan hanya mengejar cuan namun semata sebagai amanah yang pahalanya mengalir terus menerus. Anak didik berkhidmat pada guru karena paham bahwa adab mendahului ilmu.

Implementasi pembelajaran juga tak kalah penting. Setiap pembelajaran yang dilaksanakan bukan hanya transfer ilmu dengan memberikan berbagai informasi. Namun, haruslah talqiyyan fikriyyan, yaitu pembelajaran yang disampaikan harus melalui proses berfikir sehingga anak paham untuk apa ilmu tersebut dipelajari. Sebagai contoh belajar matematika bukan hanya tahu 1+1=2 atau hafal berbagai rumus, tapi mengimplementasikan pembelajaran matematika dalam kehidupan sehari-hari seperti menghitung uang ketika membeli barang atau kembalian.

Kurikulum juga disesuaikan dengan tingkat berfikir anak didik. Pada tingkat dasar anak didik fokus pada penguatan akidah dan moral serta keterampilan dasar seperti bahasa Arab. Mengenai pemahaman diluar agama Islam diajarkan ketika menginjak pendidikan tinggi di universitas, sehingga mereka sudah punya benteng akidah yang kokoh.

Dalam pemerintahan Islam yang menerapkan aturan secara kaffah. Nonmuslim tetap diajarkan aturan-aturan muamalah di dalam Islam namun mereka tidak dipaksa untuk masuk ke dalam Islam. Mereka punya hak untuk menjalankan keyakinannya dan justru dilindungi oleh Daulah Khilafah sebagai institusi pemerintahan Islam. Dengan asas kurikulum yang sama dan penerapan yang terarah akan menghasilkan output yang sesuai dengan arah tujuan pendidikan yaitu insan yang bertakwa yang mampu memberikan kontribusi untuk dunia dan akhirat. Hal ini hanya akan terwujud dalam sistem pendidikan Islam. Wallahu’alam bi ash-shawwab. []

Penulis : Yuliana, M.Pd (Dosen Agama Islam & Bahasa Arab)