Bahasan Berenergi, Pancaran Ruhiyah Diri

MK.COM – Tulisan yang berenergi terpancar dari kedalaman ruhiyah penulisnya. Pembicaraan yang berenergi juga memancarkan kekuatan ruhiyah sang pembicara. Maka kita menemukan orang yang pandai menulis atau pandai bicara, namun tak mampu menyentuh menggerakkan, itu karena faktor ruhiyahnya juga, minimalis ruhiyah.
 
Sementara tulisan dan pembicaraan (bahkan obrolan santai) yang mampu menyentuh dan menggerakkan, sekalipun tulisannya tak sebagus penulis lain dan gaya bicaranya tak selancar pembicara lain, itu sebab pancaran ruhiyah, maksimalis ruhiyah. Mengapa begitu? Karena, Allah menjadikan hujjah yang kuat pada orang-orang yang menulis dan berbicara, yang dirinya membangun kedekatan dengan Allah. Secara emosional dan intelektual, bobotnya menaik sekalipun itu tulisan ringan atau obrolan santai.
 
Dalam bahasa konseling Islam, disebut qaulan. Ucapan atau ujaran. Qaulan merupakan gaya seseorang dalam bertutur, baik secara lisan maupun tulisan. Berbagai qaulan, Allah menyebutkan macamnya di dalam Al-Qur’an. Kalau kita membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, baru kita akan tahu rumusnya qaulan itu.
 
Bagaimana supaya ujaran (tulisan dan lisan) kita berenergi, bagaimana agar tak sekadar menulis dan berbicara. Bagaimana supaya ada nyawa dalam tulisan dan lisan kita. Sepandai-pandainya orang meramu bahasa tulisan, ia kurang menggentarkan jika penulisnya ya hanya sekedar menuliskan, diiringi data yang valid dan cukup, namun tak diimbangi dengan visi yang jelas, bahkan niat yang ikhlas.
 
Selihai-lihainya orang menyulap ucapannya untuk berpengaruh, ia kurang ‘makjleb’ sampai ke hati jika pembicaranya ya hanya berbicara, menyampaikan dengan retorika yang apik, memperlihatkan intelektual yang mumpuni, namun tak dibarengi dengan ujaran yang bernas, bahkan pula niat yang ikhlas. Maka, kroscek tulisan dan lisan kita. Ada energi apa padanya? Jangan-jangan karena terlalu banyak nyinyir-nyinyiran, akhirnya kehilangan ‘makna’. Sekedar menulis agar dibaca hingga menjadi viral. Sekedar bicara agar didengar hingga membuat orang terkagum. Apakah itu esensi tulisan dan lisan kita?
 
Kroscek pula kedalaman dan kekuatan ruhiyah. Apa kabar ibadah kita, apakah sekedar tunaikan yang wajib, yang sunnah nanti dulu? Seberapa sering sih kita menegakkan malam dengan shalat dan tilawah. Seberapa banyak kita memulai pagi hari dengan dhuha dan tilawah. Seberapa lama kita mengingatNya dengan dzikir yang bukan sekedar dilafadzkan ratusan bahkan ribuan kali dalam sehari? Jangan-jangan rutinitas sehari-hari kita saja masih kosong ruhiyah.
 
Apa kabar bacaan kita. Apakah kebanyakan buku-buku Barat, buku-buku umum yang penuh ilmu dan wawasan luas bikin makin pintar, Al-Qur’an nanti saja? Seberapa lama dalam sehari kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. Apakah ia tidak mampu kita baca, tadabburi, hafal, bahkan amalkan, karena kita lebih senang menaruhnya manis di meja kita dan memandanginya tanpa ampun karena merasa terlalu sibuk tak ada waktu untuk berlama-lama dengannya?
 
Apakah sibuk kita berkah jika keseharian merasa sumpek lelah ngenes bete galau meralau, ngeluh sana sini namun tak mendapat solusi lantas merasa tak ada waktu lagi menenangkan diri dengan Al-Qur’an? Seberapa banyak sih dalam sehari membaca Al-Qur’an, jangan-jangan selembar pun kelu di lidah. Sejuz sehari terasa berat, tak sama dengan ulama terdahulu yang sejuz sehari rasanya yang paling ringan.
 
Mari menimbang ulang ujaran, dalam lisan dan tulisan. Semoga bukan untuk prestise, kebanggaan, keuntungan dunia, namun untuk menyebar sebesar-besarnya manfaat/kebaikan bagi sesama. Sebagaimana, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.[]
 
Penulis : C. Rini Putri (Islamic Counselor)

Tags: